26 Mei 2012

Penyair tanpa tanda jasa

Tidak peduli orang mau bilang apa
saya tetap saya, penyair tanpa tanda jasa.
Kutak-kutik kata jadi makna
aduk-aduk makna jadi kalimat.
Kelak nanti akan datang polisi kata
yang mengurungku dalam buku..


Gadis Beruntung

I
gadis, sorot matamu sungguh tajam
tapi tak kunjung kau menikam
sedangkan Api tak ingin padam
II
gadis yang dulu mencuri itu
kini kembali beraksi; hendak membakar dadaku
gawat, kapan Aku bisa menyekam hatiku!
III
jangan..!!
jangan padamkan yang telah menyala
karena Cahaya: kita semua butuh
IV
kalau sudah tiba waktunya
katakan saja lewat isyarat bibirmu
sebab yang beruntung kau; sedangkan aku?
hanya Spesial bagimu; atau mungkin
semua sebaliknya!!


Balada Bandar

I
Bukan tak ada lagi peduliku Ja.!!
Hanya saja lelah menampar nyaliku.
Sedangkan mimpi masih menatap arahnya.

Jalan keatas semakin berliku Ja..!!
Batu-batu makin besar menghadang.
Kau tau aku mampu, tapi tak bersamamu.

Ja.. pergilah dulu, tinggalkan saja aku..
Lupakan cerita kita yang lalu, aku mulai muak Ja.!!
Biar aku saja yang akan mencarimu nanti...

Jangan marah ya Ja..,
Situasi sedang mengincar kita Ja..
Selamatkan diri sendiri.
Walau tertanam tumbuh di hati,
tak perlu kau ingat aku lagi...

(dan ia pun pergi, membawa setumpuk setoran)

II
Siapa lagi itu Ja.??
yang kau ringkus seperti pencuri
kau ikat dengan sunyi, tuk menghitung jeruji

Mereka hanya sahabat ja.!!
yang terhimpit hari-hari tak pasti
membongkar nasib, tuk disusun kembali

Mereka semua teman Ja.!!
yang penuh dengan tanyanya sendiri
hanya ingin menghibur diri, melabuhkan mimpimimpi

Ja., kelak nanti
kau akan tau tentang segala warna
bukan lagi hitam dan putih yang mulai pudar

Segala warna ja...
warna pelangi kehidupan

(kau tetap diam berselimut kain kavan)

III.
Ganja selalu merindu saudara!!
Klik, terbakar. Asap membumbung mengudara
Api menjadi abu, tawa membara
Ketenangan yang sungguh sempurna
Seperti percintaan di musim penghujan
Petualangan imajinasi ruang dan waktu
Mempertaruhkan mimpi dan kenyataan

Bayangan


Bayangan menarikku keluar rumah, katanya
“Di luar aku lebih tampak lebih gagah, ayo kita jalan-jalan kearah barat.”
Aku dibawa ke pasar, ke restoran, ke pegunungan, ke sudut-sudut halaman
Lewati pekuburan, gang-gang sempit, di antara gedung-gedung, membuntuti burung-burung
Sampai ketika siang lewat, giliranku yang memimpin di depan

Aku menyeretnya kearah pantai, tempat yang paling kusuka
Tapi, sesampainya disana ia malah mengajakku pulang. Katanya
“Aku takut bang bertemu senja, dia sering menatapku dalam-dalam dan lama
Kemudian memelukku dengan sunyi, lalu membawaku pergi bersembunyi
Pulang saja bang, lebih baik habiskan waktu di jalan, penuh warna-warni.”

Aku tak mau di perintah bayang-bayang
Aku juga tak mau kehilangan bayang-bayang
Saat senja datang, kuijinkan bayangan bersembunyi di belakangku
Kemudian senja menatap mataku dalam-dalam, memelukku dengan sunyi
Diam-diam bayanganpun masuk ke dalamku, dan senja bersembunyi dibalik gelap

Balada di balik jeruji

I
Kau sungguh sahabat bagi jejak langkahku
Bahkan saat terhempas oleh waktu
Walau terkikis jiwa, tenggelam dalam tanya
Melangkah pasti, menapak pada luka membuka

Kau tatap aku dengan arah menantang
Hiraukan jarak yang seakan mati sementara
Ya.., sementara bagiMu
Tapi bagiku,
jarak hanya ilusi dalam dunia tirai jeruji

Hanya bagiku;
Menghitung satu persatu kata yang datang penuh makna
meski terkurung di antara cerita perkara
Menorehkannya pada dinding-dinding sunyi yang menjulang
hingga terlelap dalam keheningan tertinggi

Entah apa menanti siapa?
Ada ekor ada kepala, pintu masuk juga pintu keluar
Begitu semboyan disini
Penuh dendam pada jarak dan waktu

Jangan hitung setiap tetesan doa dari mimpi buruk ini
Menunggu lembar demi lembar angka berganti
Satu persatu sahabat berpaling, saudaraku hanya langkah
Dan kawan-kawanku kini, tak mungkin lagi kau kenal

Entah siapa menanti apa?
Langkahku diantara petapa

II
Berapa lamamu saudara?
“tak mungkin kau hitung”
Siapa temanmu saudara?
“tak ada yang ingin mengenalku”
Kenapa ada disini saudara?
“sama seperti dirimu”

Kami bersama dalam keheningan tak bertepi
Sekilas mimpi-mimpi melesat, tapi tak mampu lagi diraih
Kami tertawa karena tersayat hari-hari bersama
Ketika malam tiba, kami kembali tak bertepi

Siapa namamu saudara?
“bukan siapa, tapi apa”
Apakah kau saudaraku?
“bukan, aku penyesalan, hukuman bagimu!”

III.
Rinduku;
Memandang terbit matahari
Ketika lengkung cahayanya berlari-lari di lautan luas
Tenggelamkanku dalam kehangatan pagi
Rinduku;
Cericau burung diantara lalu-lalang udara
Membentuk nada harmonis diantara kemilau dedaunan
Basuhkan luka mata dan telinga
Oh jemari;
Kepadamu kuserahkan hari-hari diam yang mengakar
Untuk menyusun gugusan bintang di angkasa malam
Agar jiwa ini melayang sebebas tarian kata telanjang

IV
Bapa,
Aku hanya diam berteriak
Senyap dalam hening halilintar
Terbelenggu luka kebebasan
Bapa,
Aku sedang padam membara
Menghitung doa-doa lama
Mencium keningMu; saat jatuh berdarah

25 Mei 2012

Gabriel (Malaikat kudus dari Surga)


Gabriel namanya,
Tak sempat melihat dunia,
Menjadi bunga di tanah tandus,
Jawaban akan doa-doa kudus.

Matahari tak sempat menyapa tubuh mungilnya,
Waktunya yang singkat tak sempat menjadi buah yang matang,
Pemberian yang indah namun tak sempat memberi warna pada garis-garis pelangi,
Pada lengkung-lengkung senja, pada sinar bulan yang seharusnya menuntunnya ketika malam.

Ia datang kedunia sebelum waktunya,
Karena itu alam raya menolaknya,
Diserahkannya kembali kepada bumi untuk disemai,
Menunggu waktunya untuk kembali bereinkarnasi,
Menjadi sesuatu yang tak terkatakan oleh sekedar manusia,
Karena ia adalah malaikat bagi ayah ibunya..

"Gabriel,.!!  
Bukan maksud kami tak mengijinkanmu,
untuk tumbuh berkembang dalam kasih sayang,
untuk belajar jalan dengan tuntun kami,
untuk berlari mengejar kupu-kupu di taman mimpi,
menjadi buah manis dari pohon anggur Tuhan,
sebab kami pun manusia, yang tak sanggup memberi nyawa.

Tetapi,.
Biarlah kau tetap menjadi Engkau, Sang Malaikat Kudus dari Surga.

Kepala Penyair


semakin hari semakin
menumpuk abu di asbak kepala
waktu yang dibakar sunyi
terbangkan sisa-sisa asap mimpi
tertinggal di langit-langit jaman

Malam Bagiku


Begitulah malam kawan,
kadang berbunga-bunga, 
kadang penuh bisa dan taring.
Namun seringkali tak bertuan.!

Rindu tak sampai


Aku sering mengirim rindu untukmu, sayang.!
dari batas awan tempatku mendulang sepi.

Menerobos pohon-pohon beku, 
telusuri gunung-gunung angkuh,
seringkali terjebak diantara senja dan adjan magrib.

Lalu melesat dan angin membawanya jauh ke atas.
Hingga melayang rasa jiwaku..

Kemudian, ketika hujan tiba..
Tiba-tiba saja aku terasa ditaburi ribuan balasan rindumu.
Rindu yang sungguh hangat dan jujur, wangi penuh warna.
Hingga berbunga rasa jiwaku.

Tetapi, ini seperti rindu yang selalu kukirimkan kepadamu. 
Sama persis, bagai cermin?
Hingga akhirnya aku tau, bahwa ini adalah rinduku sendiri.. 

Melawan Rindu


waktuku tak mampu membalas,
setiap kata-katamu yang menikam,
sebab situasi mengikatku erat.

setidaknya, aku tetap melawan.!!
setiap terjangan rindumu..


                                     

Pernahkah Kau?


Kau dan aku selalu sama kawan,
 : nikmat didekap sunyi dan begitu dicintai malam.

pernahkah kau memuja-muja bulan sahabat.?
saat aurat sunyinya benar-benar intim memelukmu,
mencucupi tubuhmu hingga ke daerah yang paling rahasia.

dan tanpa sadar kau telah terbujur kaku.!
sementara Bulan,
 : meninggalkanmu bagai pelacur..

Namun kau masih nikmat,
berburu sepi bagai binatang..


                                                                   --Oik Jonathan--

Setiap sayatanmu adalah warna (Oik Jonatan)

Jiwaku kini mulai luntur, Sahabat..
Kata-kataku tak lagi terdengar nyaring
Seringkali hayalku memberontak jaman
Namun situasi mengikatku erat

Dan kau,
terus menikamku dengan kata
yang selalu kau asah dalam sunyi
hingga seruncing taring malam

Tapi,
setiap sayatanmu adalah warna
yang mampu melukis kembali
jiwaku yang tampak pudar..