didarah kami…
mengalir butir-butir peluru
yang membatu disepanjang waktu
titipan ayah dan ibu dari masa yang lampau
bila terdengar keras dihatimu
ledakan itu memang alarm bagi kami
sebagai tanda telah dimulainya hari
menarik pelatuk dan melempar batu
cara kami bertegur sapa
saling memberi api pada teman dan musuh
retak gigi kehilangan juga teriakan kemenangan
tentang perang yang menggetarkan jiwa
seperti nafas dan ada berganti diantara kami
jangan bakar negrimu dengan cerita ini
sebab didalam bukumu ada tertulis
tentang kami yang tiada akhir
Aku ingin membacamu dengan khusyuk, bagai sebuah Kitab. Lalu aku akan tinggal diam di dalam hatimu untuk membaca diriku sendiri.
15 Januari 2009
SUARA ALAM (di Gaza)
Bumi berbisik pada angin
yang tertiup dari pusat timur
tentang darah yang mengalir
membentuk telaga dihatinya
“disana semua mimpi dan nyata telah menguap
memadat seperti kristal menyatu di awan permai
menunggu waktu tuk curahkan kebisuan”
(lirih tangis yang menggema ledakan
pada dinding-dinding laras senjata
menjemput gumpalan asap mesiu
untuk membungkus anak manusia
mengantar dendam pada tidur yang kekal)
“disana ada kobaran membakar hari-hari
ada pertikaian tak berujung, ada korban perjuangan,
juga diam yang mengerti”
Hentikan..,
sebelum kukirim penyesalan
dari ruang hampa udara
jadikan segalanya berakhir
yang tertiup dari pusat timur
tentang darah yang mengalir
membentuk telaga dihatinya
“disana semua mimpi dan nyata telah menguap
memadat seperti kristal menyatu di awan permai
menunggu waktu tuk curahkan kebisuan”
(lirih tangis yang menggema ledakan
pada dinding-dinding laras senjata
menjemput gumpalan asap mesiu
untuk membungkus anak manusia
mengantar dendam pada tidur yang kekal)
“disana ada kobaran membakar hari-hari
ada pertikaian tak berujung, ada korban perjuangan,
juga diam yang mengerti”
Hentikan..,
sebelum kukirim penyesalan
dari ruang hampa udara
jadikan segalanya berakhir
SENONOH
dilenggang kasur kata menegang
bantal telanjang, menerjang
ada ngilu, panas, mengerang
meja dan kursi kaki renggang
nyamankan posisi, bergoyang
atas bawah, depan belakang, berulang
seperti duduk, seperti jongkok, terlentang
bantal telanjang, menerjang
ada ngilu, panas, mengerang
meja dan kursi kaki renggang
nyamankan posisi, bergoyang
atas bawah, depan belakang, berulang
seperti duduk, seperti jongkok, terlentang
SAJAK HITAM
Pergilah...
dan bubarkan semangat itu…
Sebab disini tak ada lagi nyata
Hanya mimpi yang tak pernah terpejam
Palingkan pandangmu
Bawa pergi lembar-lembar itu
Tapi tinggalkan sebuah pena
untuk kutoreh pada dinding udara
Mereka seperti patung bagiku
yang tua bernapas, dan ada saat berakhir
yang telah masam, dan mulai membatu
yang mengakar dilangit jingga
“dan mereka mulai betanya-tanya”
Ooo…
Seperti tinggi, sombong
bukan suatu keinginan
Menjadi rendah, terasing
bukan pula tujuan
yang lebih bukan untukmu
tapi kalah tak ada di kita
“yang tertunduk terlihat seperti ragu”
maka,
Adakah rajut warnamu
atau langkahmu serupa angin
dan mata yang tertancap dalam
mungkin bisik alam dilangit pikirmu
Adakah baramu…
“beberapa ada yang mulai beranjak”
Ooo…
Kulihat amarah diwajahmu
Kepal yang tampak meruncing
Seperti sinis pandangmu
mengecam dan menuduh kejam
Pada sajakku yang hitam
“dan yang sadar kembali pulang
yang mimpi tetap terpasung”
dan bubarkan semangat itu…
Sebab disini tak ada lagi nyata
Hanya mimpi yang tak pernah terpejam
Palingkan pandangmu
Bawa pergi lembar-lembar itu
Tapi tinggalkan sebuah pena
untuk kutoreh pada dinding udara
Mereka seperti patung bagiku
yang tua bernapas, dan ada saat berakhir
yang telah masam, dan mulai membatu
yang mengakar dilangit jingga
“dan mereka mulai betanya-tanya”
Ooo…
Seperti tinggi, sombong
bukan suatu keinginan
Menjadi rendah, terasing
bukan pula tujuan
yang lebih bukan untukmu
tapi kalah tak ada di kita
“yang tertunduk terlihat seperti ragu”
maka,
Adakah rajut warnamu
atau langkahmu serupa angin
dan mata yang tertancap dalam
mungkin bisik alam dilangit pikirmu
Adakah baramu…
“beberapa ada yang mulai beranjak”
Ooo…
Kulihat amarah diwajahmu
Kepal yang tampak meruncing
Seperti sinis pandangmu
mengecam dan menuduh kejam
Pada sajakku yang hitam
“dan yang sadar kembali pulang
yang mimpi tetap terpasung”
CERITA SAHABAT
Jalan ini panjang sobat
Penuh batu dan berlubang
Kadang serakah pada umur
Dan kau pun tau tentang debu
Tapi, semua terlihat jalan
yang papah, yang bosan,
yang luka, yang tegap
Hanya saja likunya melelahkan
Disepanjang sisinya
ada jendela-jendela mengintip
pintu-pintu yang menganga
dan juga tiada atap
Semua bisa ada padamu
Itupun jika kau mau
menambah sedikit tanya
Dan sebelum kepastian tiba
dengarkanlah dulu…
(Hei.. dengarkan dulu..)
Apakah nasib cerita tanpa telinga
seperti ditikam sahabat
Apakah nasib telinga tanpa cerita
seperti cetek, dangkal
Tak ada pilihan untuk berjalan
hanya saja jalan mana lalumu
yang terus mengulur pada umur
Dalam jejak terkumpul
jangan hentikan selain waktu
Karena jarak selalu ada
Dan setiap tuju tiada akhir
Di bayang jiwamu
Kulihat lelah menjadi tua
yang kelabu menerka jarak
dan, tiada sisa untuk melangkah
“Cukup” katamu
“untuk kepastian yang tertunda
kukembalikan pada waktu”
Dan akupun menjadi tau,
Agar esok kutinggalkan
kain dan doa padamu..
Penuh batu dan berlubang
Kadang serakah pada umur
Dan kau pun tau tentang debu
Tapi, semua terlihat jalan
yang papah, yang bosan,
yang luka, yang tegap
Hanya saja likunya melelahkan
Disepanjang sisinya
ada jendela-jendela mengintip
pintu-pintu yang menganga
dan juga tiada atap
Semua bisa ada padamu
Itupun jika kau mau
menambah sedikit tanya
Dan sebelum kepastian tiba
dengarkanlah dulu…
(Hei.. dengarkan dulu..)
Apakah nasib cerita tanpa telinga
seperti ditikam sahabat
Apakah nasib telinga tanpa cerita
seperti cetek, dangkal
Tak ada pilihan untuk berjalan
hanya saja jalan mana lalumu
yang terus mengulur pada umur
Dalam jejak terkumpul
jangan hentikan selain waktu
Karena jarak selalu ada
Dan setiap tuju tiada akhir
Di bayang jiwamu
Kulihat lelah menjadi tua
yang kelabu menerka jarak
dan, tiada sisa untuk melangkah
“Cukup” katamu
“untuk kepastian yang tertunda
kukembalikan pada waktu”
Dan akupun menjadi tau,
Agar esok kutinggalkan
kain dan doa padamu..
07 Januari 2009
KEPADA SYAIR UNGGU
Kerut keningnya sedatar bumi.
cerlang mata seluas hatinya.
langit pikir yang membiru
selimuti laut kami…
Kata-katamu berbicara.
Entah... (bisa-kah itu ada?)
Kita semua berbicara.
ada waktu ada henti,
lingkaran,
pun isi dan luas…
yang tumbuh,
tiada batas…
“serupa rumit jiwa”
adakah lelah itu sejenak.?
-yang tak bergerak juga tak diam,
semua warna-
kita…
kau…
entah… (bisa ini benar ada.!)
indahlah pada dasarnya
bermula air
mengalir..
seliuk ular
tubuh semesta..
mengkristal di awan,
dan diam…
“yang padat sempurna”
juga kosong
mengintai.
menjadi deras…
dingin…
liar…
sejuk… (bisa ini berbisa…)
-yang tak bergerak juga tak diam,
setiap sudut-
02 Januari 2009
SYAIR BIRU
Dan aku percaya,
hal ini bukan untukmu,
tidak juga kepadaku.
Kita..
hingga jadilah sebuah syair:
dengan sepuas matanya
dengan seluas jiwanya
dan sejernih hati
se-semesta
dan seketika itu;
kita berdiri dibibirnya
memandangi laut,
biru.
serupa langit
seperti satu
seperti sebuah kelahiran;
yang indah sekaligus mengancam,
mati.
25des..
hal ini bukan untukmu,
tidak juga kepadaku.
Kita..
hingga jadilah sebuah syair:
dengan sepuas matanya
dengan seluas jiwanya
dan sejernih hati
se-semesta
dan seketika itu;
kita berdiri dibibirnya
memandangi laut,
biru.
serupa langit
seperti satu
seperti sebuah kelahiran;
yang indah sekaligus mengancam,
mati.
25des..
Langganan:
Postingan (Atom)