12 April 2009

SIHIR PRAMUGARI

Kutatap matanya dalam-dalam
Coba alirkan rasa, sekejap saja
Seperti gigitan bibir yang menyihir
Senyum palsumu begitu menggoda

-bandara-

SERUPA

Kerut keningnya sedatar bumi.
cerlang mata seluas hati.
langit pikir yang membiru..

adakah lelah itu sejenak.?
yang tak bergerak juga tak diam
di semua warna, setiap sudut

kau, aku, entah..
tiada batas…
serupa rumit jiwa
yang padat sempurna


-penyairbiru-

NOSTALGIA (to immanuel)

Kau nikmat sisa batang milikku
hembuskan asap seputih salju
Kau tegukkan aku mimpi sucimu
melayangkan nyata diambang waktu

KUINGIN JALAMU NYATA

Kukatakan padamu, jangan ragu untuk melemparkan jala walau takkan ada ikan di danauku. Mungkin hanya ada sepasang mata yang suka berenang disana diantara batu-batu dan akar-akar pohon.

Terkadang ia suka tenggelam mencari jejak-jejak alam hingga terlupa dan tersesat. Menyusuri akar-akar malam yang menjalar menuju pagi yang tak pernah dikenal. Inginnya jalamu nyata.

Walau kadang meninggalkan hari-hari untuk waktu yang seperti terhenti. Mencarimu diantara para pengail. Tapi tak cukup mampu mereka menarikku kedalam dunianya.

-Rasa-

Tak ku sangka, ada rasa yang lebih melekat dari malam yang padat
Kini menikam tiba-tiba di dasar terdalam, hal yang sungguh ganjil
meski juga tak mustahil. Sesuatu yang telah tumbuh karena senyum sapa

Harusnya kubenamkan saja rasa ini di ruang bisu, seperti sebelum-sebelumnya
Merangkaikannya kata seindah bunga, kubaringkan di taman kupu-kupu
Membungkusnya dengan janji dan biarkan berkaca pada jernih mtahari
bermainkan seni-seni mimpi

Tapi ini begitu berbeda;
seperti mengoyak-ngoyak kesendirian
mengombang-ambingkan telaga malam
menumbuk-numbuk waktu yang malang
menghalau liar nyatanya hampa
menuju dermaga waktu
diatas sampan jinakkan badai
melaju, me-lagu, hentakkan ragu
mengetuk-ngetuk kelopak mata
bangunkanku dari tidur yang panjang

Mengapa diam yang ada padamu menghujani hari-hariku
begitu deras, ciptakan pelangi di kulit senja
semakin keras menggenggam tanya
yang tersembunyi dibalik matamu

Apabila boleh kata berkaca;
sungguh mati aku sungguh sepi

SYAIR KEPADA LANGIT

Kami memohon satu bintang saja, dari sekian banyak yang selimuti malam
bila kau tak berkenan kapada kata-kami yang berlebih, maka aku-pun mampu
merawatnya menjadikan milik para petapa
Kepada halilintar boleh-lah jika sebatas menerangi gelap jalan menuju peluk ibu
agar rindu yang menggumpal, mencair di pangkuannya
untuk merendah berserah padam

Langkah ini makin gemetar dipaksa usia, meski tapak tak cukup gentar menghadap
jaman. Ketika hari makin sempurna dan lahir di tepi laut
Memulai kembali pencarian jejak-jejak masa depan, yang kadang terhempas di keramaian dan tersapu ombak masa lalu
Kadang menyudut pada dinding udara yang diam, kelabui mata karna bentuk
tersamar dalam sepi

Kami berdiri di padang-pandang yang sunyi, memuaskan makna yang luas
yang semakin liar seperti masih liar
Menunggu hujan yang ramah menjamah getir tubuh, sisa-kan sejuk pada pundi
pundi yang terbentuk dari tawa dan jerih, yang tersimpan untuk dahaga nanti
untuk dahaga ibu dan anak-anakmu
ketika nanti, saat terik bertamu

Kami terduduk dalam perahu, diatas bukit yang kau tunjukkan
Kami berlari tanpa tengok, menghindari petaka sucimu
seperti yang kau katakan, kami bertumbuh di tanah subur
seperti yang kau katakan, kami menui taburan rindu
seperti dalam buku, seperti syair lagu, seperti telah berlalu

Bila kata-kami terdengar berlebih, maka;
Aku memohon satu bintang saja
untuk menerangi perjalanan ini
temani aku dan perahuku


-perahukayu-

MAHKOTA HIJAU

Di hari yang masih subuh benar, ketika kelahiran akan tiba dengan setianya.
Kutemukan sepucuk Cinta tergeletak, terjatuh di reruntuhan embun pagi.
Melepaskan pandangnya ke ruang angkasa yang nampak semakin sunyi.
Dengan tatapan meredup pada waktu, yang lewat tanpa sempat menyapa
Menghentikan langkah kaki ini, mengukir jejak dalam syair…

Ah.. seperti Cinta yang kukenal dulu, ketika tercipta di ujung masa…
dia yang menempati dasar terdalam, menjadi inti kehidupan sempurna
dia yang menghangatkan dan juga membekukan semesta raya
dia yang dulu penuh kehijauan, begitu murni menyelimuti rasa
tapi kini begitu pucat tampak pada jubahnya…

lalu tiba-tiba saja, matanya memancarkan bait kata-kata:
“aku telah tiba diujung jarimu penyair hijau,
bawakan sekotak coklat untuk kekasihmu
dan bibit bunga sejati yang hampir layu
untuk tumbuh di dataran jiwamu”

“Bukan kuasa ini atas cintamu, Cinta. Melainkan sebaliknya.
Bila layu harus tumbuh tegar, maka indahlah pada nyata itu.
Diatas segala bermakna, biar kukibaskan kembali jubah hijaumu”

Dan ketika pagi telah lahir, ku-sisipkan Ia di buratan cahayanya.
Menari-nari lentik pada dinding udara, menemani senja ke laut biru.
Kemudian kepada hari-hari lagi, dibenamkannya Mahkota Hijau…
Mahkota Cinta Hijau nan lestari…


-pesertalombapuisihijau-