18 November 2009

Mafia Peradilan

Kejujuran di tangan jaksa, pengacara ikut skenario
kebenaran ada di tangan hakim, tapi yang menang
tetap yang punya uang

Lukislah Negeri

Negeri ini bukan tempat sampah, penyair!!
Bukan cuma untuk caci-maki saja
Negeri ini seperti selembar kanvas, penyair!!
Yang bebas kau lukiskan

Indonesia Anakku

Pagi-pagi sekali Nesia sudah terbangun, tak biasanya
Seperti ada yang sedang mengganggu dipikirannya
Setelah berdoa, bereskan kasur mandi makan
Lalu, bersiap-siap untuk pergi entah kemana
Dengan membawa daftar belanjaan dari ibu berangkatlah
Nesia, entah kemana. “Pamit bu..,” katanya
“Hati-hati di jalan sayang..,” kata ibu

Dalam daftar belanjaan ada ditulis;
Jangan kemalaman, sayur kangkung tiga ikat, dewasa
Berantas korupsi, hapus kemiskinan, damai bawang putih
Jujur cabe rawit, tomat merah benar, maju dan berkembang,
berpendidikan, senja warna-warni, makmur dan bersatu

Nesia kini masih berjalan entah dimana
Entah kemana daftar ditulis, demikian pula jalan dicarinya
Dan sepeda waktu yang biasa dikendarainya, juga entah kenapa

Tetapi, Ibu Nesia yang pertiwi
Tetap setia menunggu Nesia pulang
Dengan belanjaannya ataupun tanpa apa-apa

Bayangan

Bayangan menarikku keluar rumah, katanya
“Di luar aku lebih tampak lebih gagah, ayo kita jalan-jalan kearah barat.”
Aku dibawa ke pasar, ke restoran, ke pegunungan, ke sudut-sudut halaman
Lewati pekuburan, gang-gang sempit, di antara gedung-gedung, membuntuti burung-burung
Sampai ketika siang lewat, giliranku yang memimpin di depan

Aku menyeretnya kearah pantai, tempat yang paling kusuka
Tapi, sesampainya disana ia malah mengajakku pulang. Katanya
“Aku takut bang bertemu senja, dia sering menatapku dalam-dalam dan lama
Kemudian memelukku dengan sunyi, lalu membawaku pergi bersembunyi
Pulang saja bang, lebih baik habiskan waktu di jalan, penuh warna-warni.”

Aku tak mau di perintah bayang-bayang
Aku juga tak mau kehilangan bayang-bayang
Saat senja datang, bayangan bersembunyi di belakangku
Kemudian senja menatap mataku dalam-dalam, memelukku dengan sunyi
Setelah kubiarkan bayangan masuk ke dalamku, senja pun bersembunyi dibalik gelap

Kekasih Hujan

Hujan, aku tau kau dendam pada matahari yang serakah
aku tau rindumu menggebu pada rumput dan bebatuan
aku juga tau kau ganas bila sedang marah
Hujan, sabar ya, jangan emosi
nanti cintamu sedih dan pergi

Hujan, kamu kok ajak-ajak Banjir sih?
Kan orang-orang tak suka padanya
Kalo ngomong suka besar, berlebihan
Suka bikin mecet lagi, bikin sebel

Hujan, denger gak sih.!
kalo kamu gak bisa dibilangin
Ya udah, kita putus..

Curhat Kemarau

Ketika itu hujan berlari-lari kearahku, ingin mengatakan bahwa gadis itu butuh gerimis
Karena senangnya ia terpeleset sebelum sempat turun
Kepalanya benjol hingga amarahnya menjadi berbondong-bondong
Sepertinya ia gegar otak, karena itu muntahnya membabi-buta
Sejak itu, kami berjalan sendiri-sendiri

Jujurkah Penulis

Penulis memang harus jujur
Hanya saja, seberapa jauh kau mampu
memahami kejujuran itu