Di halaman rumahku telah kutanam namamu
Meskipun tak dapat kau temukan nanti
Karena rumahku hanya setumpukan sajak-sajak
Dalam kamarku ada senyummu dalam vas bunga
Meskipun tak dapat kaubaca nanti
Karena kamarku adalah bunga- bunga itu
Jangan kau lupa jika jantungmu berdetak keras nanti
Ketika kita berhadapan atau ketika kusentuh tubuhmu
Sebab diujung jalan itu telah kutuliskan nama kita
Aku ingin membacamu dengan khusyuk, bagai sebuah Kitab. Lalu aku akan tinggal diam di dalam hatimu untuk membaca diriku sendiri.
03 April 2010
Bunga Dan Kayu Jati
Sejuta makna yang coba kuterjemahkan dalam setiap kata
Setiap langkah, setiap sunyi yang beku
Juga di setiap malam yang begitu berkabut
Tak inginkah kutemukan kau dalam sendirimu
Ataukah batang kayu jati itu harus kupatahkan
Sedangkan bunga masih mekar pada pucuknya
Setiap langkah, setiap sunyi yang beku
Juga di setiap malam yang begitu berkabut
Tak inginkah kutemukan kau dalam sendirimu
Ataukah batang kayu jati itu harus kupatahkan
Sedangkan bunga masih mekar pada pucuknya
Cahaya Itu
Hanya sisa-sisa gerimis yang datang menghibur sore itu
Setelah lelah ia bertutur lewat mendung di langit biru
Dan kata-kata yang tersusun terus menerus tanpa batas
Mengantarkan sunyi yang tak berujung, tak beralas
Ku coba lukis senyummu pada udara malam yang dingin
Namun tiada warna kutemukan dalam lekuk namamu
Cukup sering kutanyakan pada sinar bulan yang bening
Tentang arti cahaya-cahaya itu, yang datang hanya terkadang
Dari bulat matamu ketika akhir pertemuan kita tempo dulu
Pada garis bibirmu yang tersenyum seketika itu menikam di benakku
Setelah lelah ia bertutur lewat mendung di langit biru
Dan kata-kata yang tersusun terus menerus tanpa batas
Mengantarkan sunyi yang tak berujung, tak beralas
Ku coba lukis senyummu pada udara malam yang dingin
Namun tiada warna kutemukan dalam lekuk namamu
Cukup sering kutanyakan pada sinar bulan yang bening
Tentang arti cahaya-cahaya itu, yang datang hanya terkadang
Dari bulat matamu ketika akhir pertemuan kita tempo dulu
Pada garis bibirmu yang tersenyum seketika itu menikam di benakku
Tentang Kata
Aku adalah kepak sayap
menghamba pada belantara
menanti takdir akan makna
ditikam hari yang tergesa
memasung mimpi-mimpi
Layaknya awan di tangan angin
tak berjejak dihembus, tiada tuan
rindu untuk menghujani hari
dan menjelma telaga tenang
Memang aku yang melebur di hulu
liar beterbangan menghampirimu
ketika sempurna, seperti mati
terlahir oleh jari-jari
Karena aku juga kamu
seakan mengalir tanpa batas
bermain peran dan watak
untuk mati dan berenkarnasi
Karena aku juga kita
melompat ke alam pikiran, seketika
menyusup ke relung jiwa
hingga tiba di ujung pena
menghamba pada belantara
menanti takdir akan makna
ditikam hari yang tergesa
memasung mimpi-mimpi
Layaknya awan di tangan angin
tak berjejak dihembus, tiada tuan
rindu untuk menghujani hari
dan menjelma telaga tenang
Memang aku yang melebur di hulu
liar beterbangan menghampirimu
ketika sempurna, seperti mati
terlahir oleh jari-jari
Karena aku juga kamu
seakan mengalir tanpa batas
bermain peran dan watak
untuk mati dan berenkarnasi
Karena aku juga kita
melompat ke alam pikiran, seketika
menyusup ke relung jiwa
hingga tiba di ujung pena
Sajak Reformasi
Dentuman bom asap mata itu kembali terdengar dalam tidurku
Dibarisan depan teman dan sahabat berdampingan
Rentetan senjata berbunyi lagi, orang-orang berlarian menyelamatkan diri
Reformasi menangis, hanya sahabat tetap melawan..
Bantuan telah tiba, mengusik lapar para relawan
Semua terlihat mendukung pergerakan, untuk revormasi
Kami makan dengan lahapnya, beberapa hanya tampak mengamati
Reformasi telah dikhianati, kami tergeletak dihentak racun
Sweeping aparat, kata seseorang dihadapan ban terbakar
Teman-teman mengikuti, membara semangat revormasi
Terlihat selintas baju hijau dalam mobil dinas, menjadi buas
Reformasi telah buta, kami brutal karena dendam serupa
Para wakil berganti, berunjuk rasa atas nama revormasi
Semangatnya masih hangat, mengalirkan aspirasi
Kami bergantung, pada wakil, pada janji juga semangat api
Reformasi berbohong, semangat disuap, moralnya telah mati
Dibarisan depan teman dan sahabat berdampingan
Rentetan senjata berbunyi lagi, orang-orang berlarian menyelamatkan diri
Reformasi menangis, hanya sahabat tetap melawan..
Bantuan telah tiba, mengusik lapar para relawan
Semua terlihat mendukung pergerakan, untuk revormasi
Kami makan dengan lahapnya, beberapa hanya tampak mengamati
Reformasi telah dikhianati, kami tergeletak dihentak racun
Sweeping aparat, kata seseorang dihadapan ban terbakar
Teman-teman mengikuti, membara semangat revormasi
Terlihat selintas baju hijau dalam mobil dinas, menjadi buas
Reformasi telah buta, kami brutal karena dendam serupa
Para wakil berganti, berunjuk rasa atas nama revormasi
Semangatnya masih hangat, mengalirkan aspirasi
Kami bergantung, pada wakil, pada janji juga semangat api
Reformasi berbohong, semangat disuap, moralnya telah mati
Sajak Mandi
Kubongkar lagi seluruh selubung tubuh
dan angin menatap dengan mata telanjang
Kusingkirkan semua helai dan ikatan
semua simpul dan ingatan
Hingga tampaklah rimbun rerumputan
diselah-selah tanah tandus, disekitar sudut-sudut rahasia
Langkah kaki segera beranjak menuju pintu dibalik cermin
pintu berlambang kepolosan, kemurnian tubuh tanpa kata-kata
Kau tak boleh masuk sebelum kau tanggalkan segala sampah yang melekat
sampah dunia yang berbentuk dan berbau, segala yang terlihat oleh mata
Sungai yang mengalir dibalik pintu dan berhulu dalam bak itu
telah merindukanku sebelum aku sempat bertanya
Setelah itu, ku kunci rapat pintu tanpa celah, agar anginpun tak dapat mengintip
lalu ritualpun dilaksanakan, ritual wajib di pagi hari
dan sore hari bila tak lupa.
dan angin menatap dengan mata telanjang
Kusingkirkan semua helai dan ikatan
semua simpul dan ingatan
Hingga tampaklah rimbun rerumputan
diselah-selah tanah tandus, disekitar sudut-sudut rahasia
Langkah kaki segera beranjak menuju pintu dibalik cermin
pintu berlambang kepolosan, kemurnian tubuh tanpa kata-kata
Kau tak boleh masuk sebelum kau tanggalkan segala sampah yang melekat
sampah dunia yang berbentuk dan berbau, segala yang terlihat oleh mata
Sungai yang mengalir dibalik pintu dan berhulu dalam bak itu
telah merindukanku sebelum aku sempat bertanya
Setelah itu, ku kunci rapat pintu tanpa celah, agar anginpun tak dapat mengintip
lalu ritualpun dilaksanakan, ritual wajib di pagi hari
dan sore hari bila tak lupa.
Melampaui Batas
Selalu kulari lampaui batas
batas cakrawala, batas mata
batas tertinggi, batas kedalaman
batasan cinta
Tetap kulari lampaui batas
batas malam, batas matahari
batas hari, batasan hati
batas kata, batas cerita
batas nyata, batasan diri
Kulampaui lagi segala batas
batas warna, batas hidup
batas dunia, batas cahaya
batasan gelap, batas logika
Semakin kulari dilampaui batas
tersandung kacau segala batas
jatuh tersungkur
dan termenung tentang batas
tentang isi dalam batas
isi tanpa batas
batas cakrawala, batas mata
batas tertinggi, batas kedalaman
batasan cinta
Tetap kulari lampaui batas
batas malam, batas matahari
batas hari, batasan hati
batas kata, batas cerita
batas nyata, batasan diri
Kulampaui lagi segala batas
batas warna, batas hidup
batas dunia, batas cahaya
batasan gelap, batas logika
Semakin kulari dilampaui batas
tersandung kacau segala batas
jatuh tersungkur
dan termenung tentang batas
tentang isi dalam batas
isi tanpa batas
Langganan:
Postingan (Atom)