Sahabat..
kuceritakan sedikit tentang jarak
Ia takkan kenal lelah, meskipun hari-harinya berkelana
Sepi dan sunyi jadi sahabat ketika malam terjaga
Dan keramaian hanya ada dipersinggahan
Arah angin tak akan berpengaruh sedikitpun baginya
Bahkan ketika jejak-jejak tak lagi ditemukannya
Aroma anggur dan tembakau melangkah bersamanya berdampingan
Dan jarak adalah jarak, jangan kau ukur dengan logika
Karena sedekat apapun itu ada rahasia yang tak mungkin kau ungkap
Aku ingin membacamu dengan khusyuk, bagai sebuah Kitab. Lalu aku akan tinggal diam di dalam hatimu untuk membaca diriku sendiri.
09 Februari 2011
Sepanjang jalan
Disepanjang jalan dadaku terbuka
Menangkap warna dan gerak cahaya
Mengisi waktu dengan sunyi kelana
Kulukis setiap wajah dengan seksama
Kerutan-kerutan kulit dan lekuk kening
Juga usia tanah dan pepohonan
Disepanjang jalan
Selalu kulihat seorang tolol
Berbicara pada bayangannya sendiri
Menangkap warna dan gerak cahaya
Mengisi waktu dengan sunyi kelana
Kulukis setiap wajah dengan seksama
Kerutan-kerutan kulit dan lekuk kening
Juga usia tanah dan pepohonan
Disepanjang jalan
Selalu kulihat seorang tolol
Berbicara pada bayangannya sendiri
Terlelap
Aku rindu
Pada wangi tubuh
Keringat dan liurmu
“Seorang lelaki terlanjang
terlelap dibawah ketiaknya
setelah mengarungi gejolak jiwanya.”
Aku tetap rindu
Pada wangi tebu
Manis dan madumu
Pada wangi tubuh
Keringat dan liurmu
“Seorang lelaki terlanjang
terlelap dibawah ketiaknya
setelah mengarungi gejolak jiwanya.”
Aku tetap rindu
Pada wangi tebu
Manis dan madumu
Langkah
Langkahku setengah terbakar
Dan semangat hampir padam
Dalam sebuah perjalanan panjang
Menyapu daratan dengan telapak yang kian tipis
Menahan angin dengan tubuh ter-kikis
Melempari bintang dengan krikil-krikil malam
Siangnya, menghitung jarak dan tenaga
Dan semangat hampir padam
Dalam sebuah perjalanan panjang
Menyapu daratan dengan telapak yang kian tipis
Menahan angin dengan tubuh ter-kikis
Melempari bintang dengan krikil-krikil malam
Siangnya, menghitung jarak dan tenaga
05 November 2010
Tsunami (mentawai)
Langkahmu tak kenal waktu
melebihi pilu patah di jiwa
kau hapuskan cinta dengan lekas ganas
Patahan hati bumi berbekas isyarat
Dengan lekuk gelombang laut
dan terjang air pasang
Napasmu menderu-menggebu
santap Saudaraku dengan gemuruh
Seandainya aku adalah Matahari
Kan kutanya, apa maksud bumi?
Dengan nada gemetar dan terpatah-patah
katanya; Alam semesta sedang berkarya
Kau pisahkan gerimis dan air mata
Pada tanah-tanah liat
Pada dada-dada yang muram
Pada luka juga tentang duka
melebihi pilu patah di jiwa
kau hapuskan cinta dengan lekas ganas
Patahan hati bumi berbekas isyarat
Dengan lekuk gelombang laut
dan terjang air pasang
Napasmu menderu-menggebu
santap Saudaraku dengan gemuruh
Seandainya aku adalah Matahari
Kan kutanya, apa maksud bumi?
Dengan nada gemetar dan terpatah-patah
katanya; Alam semesta sedang berkarya
Kau pisahkan gerimis dan air mata
Pada tanah-tanah liat
Pada dada-dada yang muram
Pada luka juga tentang duka
03 Oktober 2010
Gerimis
Gerimis yang kau kirim sore ini
sudah tiba dan jatuh ke tanah dasar
meresap di akar-akar pohon
sebagian tergelincir ke aliran air
ada yang tertinggal di daun-daun..
Kepada siapa harus kutitipkan
gerimis malang sore ini
bila malam nanti tak lagi terjaga
kepada mata angin yang berkeluh-kesah
atau mungkin kepada senja yang tertidur
adakah yang bertanya kepadamu?
ah sudahlah.,
gerimis ini bukan milik siapa-siapa
sudah tiba dan jatuh ke tanah dasar
meresap di akar-akar pohon
sebagian tergelincir ke aliran air
ada yang tertinggal di daun-daun..
Kepada siapa harus kutitipkan
gerimis malang sore ini
bila malam nanti tak lagi terjaga
kepada mata angin yang berkeluh-kesah
atau mungkin kepada senja yang tertidur
adakah yang bertanya kepadamu?
ah sudahlah.,
gerimis ini bukan milik siapa-siapa
02 Oktober 2010
Langit Sore Ini
Di sore ini petir menyayat-nyayat langit
angin menarik-narik gesit pepohonan
mesin bergemuruh, jarak masih ada
Gerimis mulai jatuh
pejalan kaki melebarkan langkah
hati menggeruti kecil, burung terteduh
Di sore ini
waktu melambat laun
wajahmu terlintas di daun-daun
meneteskan air mata kelabu..
angin menarik-narik gesit pepohonan
mesin bergemuruh, jarak masih ada
Gerimis mulai jatuh
pejalan kaki melebarkan langkah
hati menggeruti kecil, burung terteduh
Di sore ini
waktu melambat laun
wajahmu terlintas di daun-daun
meneteskan air mata kelabu..
Langganan:
Postingan (Atom)