26 Juli 2012

Suara Tengah Malam

Gadis mungil yang purnama itu
tiba-tiba saja muncul dari balik jendela kamarku.
Sementara saya sedang sibuk membebaskan mimpi-mimpi nakal
yang tersangkut dilamunan, si gadis lalu nyeletuk;
“Hus., dasar penyair  lebih gila dari orang gila,
Jaman sudah begini masih saja menulis puisi.”   

11 Juli 2012

Topeng

Ini topengmu, itu topengku, di ujung sana topeng dia.
Yang mirip topengmu ini topengnya, di bawah topeng yang lain.
“Loh, yang paling di atas itu topeng siapa.?”
   --Itu topeng Tuhan.

Tamu Penyair

“Selamat hari yang ceria saudara, boleh kita bertukar kata sejenak?” 
Sapa-nya pada si penyair saat datang bertamu.
“Masuklah, tak ada pintu bagimu. Telah kusiapkan kata-kata terbaik untukmu.”
Sang penyair menyambut ramah.

Di dalam, disuguhkannya semangkuk kata hangat yang beraroma senja belia.
“Mmm.. berkualitas tinggi, seperti madu rembulan. Mari, nikmatilah bersamaku saudara!”
Seru si tamu! Dan mereka mulai bercerita, hingga benar-benar hanyut dalam kata.

Dan kalian tau.!?
Mereka mabuk, karena terlalu banyak minum puisi.


Bersiaplah Kawan


Aku tak percaya,
sampai suatu ketika pohon besar di pinggir sungai, yang sejak dulu kokoh itu
tumbang juga, hingga akar-akarnya tercabut dari tanah.

Aku juga tak percaya,
hanya bermasalah dengan angin, buah-buahnya yang manis harus juga kulupakan
tempat anak-anak berteduh mengail ikan, kini tak ada lagi.

Aku masih juga tak percaya,
bahwa di seberang sungai sana, sudah ada villa-villa dan padang-padang golf.
kampung kita berikutnya: Bersiaplah kawan!

Dan kau tak-kan percaya,
sejak si kokoh itu tumbang oleh angin, angin tak lagi memiliki arah..

Dimana

Tidak masalah, bila aku harus belok di persimpangan jalan itu.
Simpang apa tadi katamu?

“Simpang sajak Tuan.! Nah dari situ berbeloklah ke arah barat, tiga ratus meter kemudian
ada gang Puisi di sebelah kiri jalan. Masuklah, orang-orang disana tua,
mereka akan melucutimu dengan mata telanjang, berjalan saja tenang, tunjukkan langkah syairmu.
Diujung gang itu adalah terminal. Terminal Kata namanya. Tanyakan saja disitu.
Mau kemana tadi arahmu?”
--Ke Surga..

“Kalo Surga kelewatan bung.! Ini sudah terlalu jauh, tak ada langit lagi disini.”


Makan Malam

Kau, piring, garpu dan pisau 
berada di atas meja yang sama. Sama-sama lapar.
Hingga ketika malam tiba:
--Piring bertanya; apa yang bisa kita santap sekarang?
--Garpu berkata; biar aku yang menikamnya duluan.
--Pisau bilang; siapa yang akan menyantap daging ini?
--Lalu kau menjadi risau, seperti menunggu, di meja waktu.

Penyair Itu

Di sebuah pasar yang sepi, aku bertemu penyair itu.
Wajahnya pucat berkarat, dihiasi senyum yang hangat.
Dengan seikat sajak di tangan kirinya.
Segenggam mimpi di saku kanan celana.

Tatap matanya seruncing pensil yang di serut waktu.
Kata-kata di sekelilingnya, menyusun maknanya sendiri.
Di seluruh tubuhnya seperti sebuah cermin.
Memantulkan cahayanya sendiri.