08 Januari 2013

Peluru


Saya baru saja meletakkan puisi di sudut sini.!
“dimana?”
disini.. dalam sebuah dompet kulit kumuh coklat tua
yang bergambar koboi memegang senjata
puisinya terselip di topinya..
“ahh., puisimu mungkin sudah menjadi peluru.
Yang menembus dada gadis itu.”

Gadis itu tersenyum tersipu ketika peluru menemukannya.

Derai Hujan


Derai hujan tak mau mengerti, antrian panjang roda-roda gelisah
ataupun jejak-jejak sunyi yang sembunyi

Malaria


ibu mendapati saya sedang tenggelam di danau demam yang paling gigil. lalu mencelupkan sebutir embun yang paling manjur. keringatpun bercucuran dari matanya. 

Demam


diam-diam ibu menuai demam di tubuhku, menjadi embun di matanya
embun di mata ibu bisa jadi lebam di matamu

Semakin Hilang


dia memecahkan botol, jauh di lorong mimpinya yang paling sunyi
dia lari menembakan pistol disaat orang-orang telah ramai. Dikuburan
dia menangis sendu merayakan hatinya yang sedang tumbuh mekar
semakin bermekaran  ia menjadi semakin hilang arah kata

Sang Ibu dan Petualang


si petualang itu sedang menunggu datang kekasihnya
sambil menunggu ia putuskan untuk menjelajahi  ceruk bulan
di ceruk bulan sunyi ditemukannya seorang ibu sedang tertidur pulas

tak ingin terperangkap dalam mimpi si ibu sang tualang terus berjalan
memasuki lorong-lorong ceruk bulan yang semakin sunyi
yang semakin gelap,  menjadikannya cahaya bagi mimpi sang ibu

ketika kekasih datang si petualang sudah hilang terlalu dalam
terjebak dalam kepalan waktu membeku, dingin dan sendiri

: seketika saja sang ibu terbangun, dan
membongkar susun kembali mimpi-mimpi menjadi terang terkendali

Ayah


Angannya meluncur ke jaman lalu, lalu
mantul-mantul di pinggir jendela nako
jatuh pecah di atas kepala seorang bocah