08 Januari 2013

Syal


Selendang itu tanda sesuatu padamu
Yang bergelayut di lehermu itu sesuatu
Yang selalu menjadi sesuatu, sesuatu yang lembut
Hangat, penuh warna seperti kita
sesuatu yang sendiri, terbuka
Yang kan sering terkapar di hangat tubuhmu

Sesuatu itu bisa saja menjadi siapa,
atau bukan. Tak perlu ada yang tau!

Pertemuan Singkat


Rasanya seperti mencuri selendang bidadari
Tapi harus dikembalikan lagi, utuh tak tercela
Bagaimanapun caranya, apapun resikonya
Seperti apa prosesnyapun adalah
Suatu kehormatan tersendiri

Itu.. Itu saja kawan.!
Yang tak pernah bisa ku pahami.

Bulan Biru


Dimatanya kutemukan bulan
Bulan biru yang kenyal
Sintal dan hangat

Sesekali saya mencoba mencurinya
Ketika bertemu pandang sesaat
Tetapi waktu terlalu singkat untuk itu

“Aku yang terlalu atau dia yang tak mau memberi?”
Semuanya boleh saja bertanya-tanya
Tapi mata tak mungkin berbohong

Disuatu Waktu

diwajahnya kutemukan surga;
surga yang elok. 
ada cahaya berpendar disana;
dari rona pipi dan santun senyuman.

Kita terduduk disuatu waktu
Disebuah taman kecil tengah kota
Saling bertutur kisah, berbagi silam
Hingga waktupun terbungkam
Terkesima oleh kedua bola matamu

-Taman Menteng w Deas-

Selembar Malam Tanpa Judul

Tak cukup malam kah, kawan?
Untuk kita saling membongkar masa lalu
Menyusunnya santun di sudut taman
di ujung langkah kita yang tersisa dan terbata

Tak cukup malam kah, kawan?
Untuk sekedar terlena lekuk-lekuk sunyi
Yang menari anggun di dalam hujan
di dalam keramaian yang remang tak bergerak

tak cukup malam kah? Kawan
Kita terduduk di salah satu sudutnya
Terdiam., terpaku. membiarkan mimpi kita terbaca oleh angin
Membiarkan tubuh kita terbaca oleh gerimis
di selembar malam tanpa judul

-Dedicate to: Oik, Doms, Bert, Dri (Taman Menteng)-

Diriku Yang Lain


Saya menunggunya disebuah terminal kata
dengan tubuh setengah terkapar.
Dengan sebongkah puisi padat dan dingin,
dan sekantong janji.
“siapa yang kau tunggu, sahabat.?”
Diriku yang lain.

Kamu


seketika saja kamu menjelma menjadi kata-kata
yang berkelebat-kelebat dalam ingatan bagai kilat
kata-kata anggun yang melekat sungguh memikat
berkecipak-kecipak di dalam penat bagai obat