13 Desember 2013

Asmara Malam

Seperti hujan asmara di pondok malam
Tanpa kompromi dan batasan ia mencurah
Lalu ketika cahaya mulai menghangtkan
Masing-masing berpisah hilang arah

Karam

Kemarin kau pesan segelas
Hari ini sebotol penuh
Tiba-tiba kau karam di meja bar
Dari dalam botol muncul biduanmu
Ya ampun, semua tiba-tiba terbuka
Dan kita pun tenggelam timbul dan tenggelam

Pohon Sunyi

Bibit embun yang kau kirim
kini sudah menjadi pohon sunyi.
Buahnya tak dapat kupetik
sebab pohon menjulang tinggi.
Daun-daunpun tak pernah gugur,
sebab tak ingin kukatakan.
Dahan-dahan sekokoh beton,
seperti ranting-ranting besi.

Yang ingin kukatakan:
Pohon itu tumbuh di pekuburan,
tempat kita dulu melinting sepi:
Bawahnya lancip, atasnya mekar menyala.

UjianMu

Di suatu masa kita saling menguji
antara dosa terberkati dan doa kesiangan
keduanya segunung-segunung, dipisahkan Kesabaran.
Hasilnya? Setitik embun di sudut sunyi.

11 Desember 2013

Anakku Mandi Api

Hari ini kau berangkat untuk mandi api.
Saat pagi ketika ibu sedang menghangatkan hati
untuk bekal masa depanmu,
kau berkata:

Bu, hari ini aku mau mandi api
nanti sore ibu akan lihat di sekujur tubuhku
sudah bersih dan tak ada lagi dosa-dosa,
untuk itu aku butuh doa. Aku tak mampu bu
membersihkan kotor-kotor tubuh ini!
Kotor dari segala penjuru yang sudah karat dalam jiwa.
Seperti tubuh kita ini bu. Karat oleh literatur hidup.
Aku sudah pernah mandi air, mandi petir bahkan mandi getir
tetapi kotor itu tetap ada bu. Mungkin dengan mandi api
semua akan mengerti.

"Anakku sayang pergilah damai mandi api,
bawalah serta doa ibu, air mata hujan,
dan tetesan api di pipi."

-Bintaro, Des 2013-

07 Februari 2013

Inginku

Aku ingin mencintaimu dengan doa
Yang tak sempat diucapkan bibir
Pada sebuah kecup di kening

Aku ingin kamu menjadi cahaya
Di setiap malam penuh gerimis
Yang menghujani luas haus ini

Inginku adalah gelisah yang tak-kan  kunjung selesai

-D-

Ingin Sekali


Di punggung pagi yang masih belia saya termenung diatas bukit yang rimbun
Jiwa belum lengkap masih tertinggal di sudut-sudut mimpi dalam namamu
Daun-daun basah nan hijau ucapkan salam pada merdu cericit anak-anak burung
Wangi tanah, warna bunga, serat-serat cahaya bertebaran disekitar hati yang gelisah
Aku ingin benar-benar yakin masih berada disini, di sebuah entah tanpa cinta

Namamu yang kerap kali mengetuk-ngetuk pintu hayalku seakan mulai tampak pudar
Tersapu angin yang terus-menerus berhembus, menerbangkan sisa-sisa api unggun
Wajahmu yang meneduhkan ingin sekali kuterka isyarat-isyaratnya dalam sunyi kelana
Matamu yang seringkali lembab berbinar, senyummu yang kerap kali terasa hangat
Tak mampu menyimpan rahasia dalam kenangan masa lalu, ingin sekali ku hapuskan

Ingin sekali kulukis sebuah hati yang jujur di keningmu
Dengan warna yang tulus di dalam kanvas waktu yang bening
Seperti sebuah doa dan air mata di malam yang penuh bintang

Inginku adalah cahaya bulan
Yang terjatuh diluas padang sepimu
Diluas hati gelisahku

--D-