08 Januari 2013

penyiar-penyair

kalau kamu mau jadi penyiar mungkin aku mau jadi penyair juga.!

Kacamatamu


dari balik kacamata itu ada rindu
yang tak henti-hentinya bergemericik merdu
disekujur tubuhku yang hampir penuh
penuh dengan kekosongan yang kian melompong

dibalik kacamatamu itu ada rindu
sedang berdiri menunggu
keterbukaanmu yang sungguh

Pertemuan Ketiga


disepanjang hari, jari-jarinya sibuk menindis-nindis mainan barunya
aku jadi canggung, mau bicara padanya atau mainan barunya
aaah., biar sajalah!
toh nanti juga aku menjadi mainan baru baginya..

Pertemuan Kedua


Saya terpanggang bersama ikan-ikan bakar
Dimalam taun baru yang penuh berkat
Disamping ibunya yang sedang berkeringat

Langit merayakan pertemuan itu
Dengan pecahan-pecahan bintang yang diledakkan
Menjadi serpihan-serpihan mimpi yang terberkati
               
--malam taunbaru--

Pertemuan Pertama


semenjak bertemu kamu
saya jadi sering senyum-senyum sendiri

disebuah toko buku tempat janji bertemu
saya menyodorkan segalanya untuk kau simpan
kau menyimpannya dalam dirimu yang paling dalam
segalanya yang aku tau tentang kedalaman

lalu, kita berjalan bersama
mencoba melepaskan jarak yang ada
saling melempar senyum, mengumbar tawa
berusaha santun dipertemuan pertama

sampai akhirnya terlukis sebuah rindu
yang membuatku tersenyum sepanjang waktu

Terlalu Singkat


rasanya waktu terlalu singkat untuk kita
saling membagi warna pada lekuk-lekuk cahaya
memberi makan bersama pada burung-burung pipit di taman gereja
 meniupkan angin pada daun-daun yang ingin terlepas dari tangkainya
untuk menukarkan mimpi-mimpi pada malam-malam penuh doa
dan membisikan kata cemburu pada masing-masing kita

Syal


Selendang itu tanda sesuatu padamu
Yang bergelayut di lehermu itu sesuatu
Yang selalu menjadi sesuatu, sesuatu yang lembut
Hangat, penuh warna seperti kita
sesuatu yang sendiri, terbuka
Yang kan sering terkapar di hangat tubuhmu

Sesuatu itu bisa saja menjadi siapa,
atau bukan. Tak perlu ada yang tau!