06 Februari 2014

Bocah Banjir dan Bumi Kecilnya

Seorang bocah banjir gigil meringkuk ngilu
di sudut ruang terpal. Mimpinya kecil,  
sebungkus nasi dan perahu kecil. Bumi mengambilnya lebih
mengacak mimpi dan fungsi pikir.

Bocah kecil diringkus banjir dalam tidurnya.
Sang Ayah menjemput mengendarai longsor kecil.
Ibu menggenangi bumi dengan air mata kecilnya

dalam dongeng kecil masa kecil Ibunya. 

Mengapung Mimpi

Malam gaduh yang penuh garis ini
Hati resah menyalang pasrah
Bulat bulan tumpah cahaya
Kata-kata pecah menggenang
Ciliwung mengapung mimpi lagi
Persembahan anak-anak Sungai
Dalam perayaan ibadah masal


--Banjir Jakarta, Januari 2014--

Jangan Tidur, Kabut

Sore itu aku tau, Kau biarkan ia terjatuh di jiwaku. Hangat dan hampir tak kusadarkan diri.
-- suaramu terlalu lantang ku dengar,
                meremukkan tulang-tulang, mengacaukan aliran darahku.
                                : menghentak di keramaian.--
Sebenarnya ingin ku-jaga ia tetap tersesat, tersandar lepas di lapang dada ini.
Ketika tiba-tiba semua terasa tenang, semua semakin bimbang. Dia akan menjadi bintang.
                -- suaramu., suaramu kenapa tiba-tiba merayu parau?
                                aku hanya mencoba jatuh tak terarah, tak ingin terpaku pada alam.
                                 : ada cahaya yang diam-diam kaunyalakan.--   
Sebab lelah masih terlalu luas membentang. Setiap langkah akan menjadi sunyi yang mengekang,
menjadi jejak bunga kembang yang tidak sepenuhnya sia-sia.   
-- dadaku sakit, napasku tersenggal-senggal kau dekap.
                 malam memandang pucat pada kita,  memberi waktu pada gerimis
                                 : untuk membaca isyarat daun.--
Sayup-sayup, kuucapkan dari dalam hati,
“jangan tidur Kabut, jangan tidur dalam kabut, nanti kau lelap dan hilang dilahap senja
yang diam-diam iri pada nyala cahaya diantara kita.”


**Kabut Telaga Warna**

13 Desember 2013

Mimpimu Kelak

Kelak nanti aku akan datang melalui mimpimu
Menyentuhmu lembut dan memelukmu diam
Aku akan membawa mimpimu terbang
Lalu kupecahkan menjadi bintang-bintang
Dan kita saling memandang diam
Mengecup dan hilang

“maaak...nenen!”

Pelangi di Tubuh Sintalmu

Di matamu, di hidungmu, di pipimu
selalu ada pelangi, bahkan di bibirmu!
Jangan-jangan kau t’lah mengambil semuanya
tak ku temukan lagi jejak-jejak pelangi.

Aku juga masih memiliki pelangi
Satu-satunya yang kupunya
Sering kupakai melukis senja
Melukis bukit-bukit dan rerumputan

Pertanyaanku,
boleh kulukis pelangi
di sepanjang tubuh sintalmu?

Cium

Cium yang dulu kau berikan
Hangatnya masih ku simpan dalam kulkas
Jikalau rindu berkunjung ku seduh dalam rintik hujan

Cinta

Ada kata manis
yang ku-larut dalam waktu,
mengendap di dasar kopimu.

-7 Des-